Akselerasi Pertanian Modern, BRMP Pascapanen Sosialisasikan PM-AAS di Suak Tapeh
Produktivitas padi di Kecamatan Suak Tapeh ditargetkan meningkat dari rata-rata 5–6 ton menjadi 10 ton per hektare melalui penerapan Pertanian Modern–Advance Agriculture System (PM-AAS). Untuk mewujudkan target tersebut, BRMP Pascapanen menggelar rapat koordinasi dan sosialisasi bersama pemangku kepentingan serta petani di Desa Lubuk Lancang, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka mendukung Program Ketahanan Pangan menuju Swasembada Pangan Nasional Berkelanjutan, sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 166/Kpts/PW.020/A/09/2026 tentang Penanggungjawab Provinsi dan Kabupaten/Kota pada kegiatan Swasembada Pangan Berkelanjutan.
Kepala BRMP Pascapanen selaku PJ Kabupaten Banyuasin, yang diwakili oleh Kapoksi Layanan dan Kerjasama, Febriyezi menyampaikan bahwa penerapan PM-AAS diharapkan mampu mendongkrak produktivitas padi secara signifikan. Saat ini, produktivitas rata-rata padi di Kecamatan Suak Tapeh berada pada kisaran 5–6 ton/ha. “Melalui penerapan sistem pertanian modern tersebut, produktivitas ditargetkan dapat meningkat hingga mencapai 10 ton/ha. Peningkatan hasil ini diharapkan turut memperkuat ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan efisiensi dan pendapatan petani”, ujar Febriyezi.
Menurut Joni Karman penyuluh dari BRMP Sumsel, pola tanam yang diterapkan petani di Suak Tapeh pada dasarnya telah memiliki kesamaan dengan prinsip PM-AAS. Petani telah menggunakan metode Tanam Benih Langsung (Tabela), meskipun masih dilakukan dengan cara disebar langsung dengan penggunaan benih hingga sekitar 60 kg/ha. Melalui PM-AAS, metode tersebut diarahkan menjadi lebih teratur dan presisi dengan memanfaatkan drum seeder. Teknologi ini memungkinkan pengaturan jarak tanam secara lebih optimal, dengan kebutuhan benih sekitar 70 kg/ha serta alokasi pemupukan terukur sebesar 300 kg/ha.
Forum koordinasi juga menjadi ruang untuk mengidentifikasi berbagai kendala yang masih dihadapi petani di Kecamatan Suak Tapeh. Salah satunya adalah keterlambatan distribusi benih bantuan, sehingga benih kerap diterima ketika telah melewati masa tanam ideal. Selain itu, kondisi infrastruktur irigasi juga menjadi perhatian, terutama pendangkalan saluran yang berpotensi menyebabkan genangan atau banjir pada lahan pertanian saat musim hujan.
Rapat koordinasi dan sosialisasi ini turut dihadiri oleh Tim BRMP Sumatera Selatan, Tim Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banyuasin, perwakilan SMK-PPN Sembawa, para penyuluh pertanian, Babinsa, perwakilan kelompok tani, serta pengurus Brigade Pangan se-Kecamatan Suak Tapeh. Sinergi berbagai pihak diharapkan mampu mempercepat implementasi PM-AAS di lapangan, meningkatkan produktivitas dan efisiensi budidaya, serta memperkuat ketahanan pangan Kabupaten Banyuasin secara berkelanjutan.