Dari Biji hingga Bonggol, BRMP Pascapanen Dorong Jagung Pasuruan Naik Kelas
PASURUAN, 2 September 2026 — Jagung tak lagi sekadar komoditas yang dijual setelah panen. Dari biji hingga kulit dan bonggolnya, jagung memiliki potensi untuk diolah menjadi beragam produk bernilai ekonomi. Peluang inilah yang didorong Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pascapanen Pertanian (BRMP Pascapanen) melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Teknologi Penanganan dan Pengolahan Jagung di Kabupaten Pasuruan, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari program Klinik Modernisasi Pertanian (KMP) tersebut menjadi wadah bagi petani untuk mengenal teknologi pengolahan jagung sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis komoditas lokal. Bimtek menghadirkan narasumber dari BRMP Pascapanen, Miskiyah, yang membagikan pengetahuan mengenai berbagai alternatif pengolahan jagung dan pemanfaatan hasil sampingnya.
Miskiyah menjelaskan, jagung dapat diolah menjadi berbagai produk pangan maupun nonpangan. Beberapa di antaranya adalah susu jagung, tepung jagung, pati jagung, dan grits jagung. Sementara bagian lain seperti kelobot dan tongkol juga dapat dimanfaatkan menjadi tepung kelobot, tepung tongkol jagung, media tanam jamur tiram, media budidaya jamur, kompos, hingga biofoam.
Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa nilai ekonomi jagung tidak berhenti pada bijinya. Jika teknologi pengolahan diterapkan dengan tepat, bagian-bagian yang sebelumnya dianggap sebagai limbah pun dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Pasuruan, Ainur Alfiyah, mengatakan Kabupaten Pasuruan memiliki potensi pertanian yang besar dan tidak hanya mengandalkan komoditas padi. Jagung juga menjadi salah satu komoditas yang berpeluang untuk terus dikembangkan, khususnya di wilayah Wonorejo dan Kejayan.
“Selama ini kami menjual langsung ke tengkulak jagung utuh. Sekarang bisa diolah terlebih dahulu sebelum dijual untuk meningkatkan pendapatan petani” ungkap Ainur. Ia menilai, kehadiran BRMP Pascapanen memberikan peluang bagi petani untuk meningkatkan kapasitasnya, tidak hanya dalam menghasilkan komoditas, tetapi juga mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
Ainur berharap peserta Bimtek dapat menjadi motor penggerak di kelompok masing-masing dengan menularkan pengetahuan yang diperoleh kepada petani lainnya. Dengan demikian, modernisasi pertanian tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi berlanjut hingga pengolahan dan penciptaan produk bernilai tambah.
Melalui sinergi BRMP Pascapanen dan pemerintah daerah, pengembangan jagung di Kabupaten Pasuruan diharapkan dapat bergerak dari sekadar “panen dan jual” menjadi “panen, olah, dan bernilai tambah”. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing komoditas, meningkatkan pendapatan petani, dan mendorong tumbuhnya usaha pengolahan berbasis potensi pertanian lokal.