Teknologi Pascapanen pemanfaatan hasil samping Padi di Sambas- Kalimantan Barat
Dorong Nilai Tambah dan Daya saing komoditas Padi, BRMP Pascapanen Hadirkan Teknologi Pascapanen pemanfaatan hasil samping Padi di Sambas- Kalimantan Barat
SAMBAS — Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan daerah sebagai salah satu sentra produksi padi terbesar di provinsi tersebut. Produksi padi pada 2025 mencapai 205.501 ton Gabah Kering Giling (GKG), atau sekitar 27,12 persen dari total produksi padi Kalimantan Barat. Kendati memiliki potensi hulu yang melimpah, petani masih menghadapi tantangan dalam hal penanganan dan pengolahan yang belum optimal sehingga dapat menurunkan nilai jual produk.
Menjawab permasalahan tersebut BRMP Pascapanen melalui kegiatan Klinik Modernisasi Pertanian (KMP)-ICARE melaksanakan bimbingan teknis teknologi pascapanen padi tanggal 23–24 Oktober 2026 di Gedung Serbaguna Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas yang diikuti 200 peserta terdiri dari petani/Gapoktan dan Kelompok Wanita Tani (KWT).
Mengawali kegiatan bimtek, sekapur sirih berupa sambutan selamat datang dari Supriadi, Camat Kec.Tebas, Kabupaten Sambas, sebagai tuan rumah. Selanjutnya, arahan Kepala BRMP Pascapanen Pertanian selaku Pengarah kegiatan KMP, sekaligus membuka secara resmi pelaksanaan Bimtek Teknologi Pascapanen Padi.
Pada sesi materi, peserta mendapatkan pemaparan dari dua narasumber. Mayadi dari dinas pertanian dan ketahanan pangan kabupaten sambas menyampaikan kondisi eksisting perkembangan padi di Kabupaten sambas. Selanjutnya, Beni Purwanto dari BRMP Pascapanen Pertanian menyampaikan teknologi penanganan padi dan pemanfaatan hasil samping untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing. Materi yang disampaikan diharapkan dapat membuka wawasan dan pola pikir peserta, bahwa banyak peluang dari teknologi pascapanen padi serta peserta dapat menerapkan teknologi sederhana untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual produk.
Sekam padi yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah penggilingan ternyata memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi, salah satunya briket arang sekam sebagai sumber energi alternatif.
Proses pembuatan briket dimulai dari pengarangan sekam secara terkendali, pendinginan,penghalusan, pencampuran perekat, pencetakan, hingga pengeringan. Produk yang dihasilkan berpotensi besar sebagai bahan bakar padat, termasuk untuk mendukung kebutuhan energi dalam proses pengeringan gabah.
Pemanfaatan sekam padi melalui teknologi pengolahan yang tepat dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai tambah hasil samping produk pertanian sekaligus mendukung pengembangan bioindustri padi terpadu
Selain teori, Peserta juga mengikuti praktek pembuatan briket arang sekam padi. Praktek yang diberikan dapat membuka peluang usaha, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi sirkular di sektor pertanian. BRMP Pascapanen Pertanian melalui inovasinya terus mendorong pemanfaatan hasil samping padi agar tidak sekadar menjadi sisa produksi, tetapi berkembang menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar.