
Selama ini, belum ditemukan penyelesaian masalah surplus telur ayam di Indonesia. Padahal, daya simpan telur ayam hanya sampai dua minggu. Surplus telur menyebabkan telur tidak termanfaatkan (dibuang). Produksi tepung telur merupakan solusi untuk memperpanjang masa simpan dan penyangga saat harga telur jatuh. Pembuatan tepung telur dapat meningkatkan daya simpan tanpa mengurangi nilai gizi, volume menjadi lebih kecil, sehingga hemat ruang dan biaya penyimpanan, jangkauan pemasaran yang lebih luas dan penggunaan lebih beragam. Tepung telur dengan karakteristik yang baik dan biaya produksi rendah dapat diproduksi pada skala industri kecil-menengah (UKM).
Saat ini teknologi produksi tepung telur telah diadopsi oleh mitra binaan pada kapasitas produksi 7 kg telur dengan rendemen yang dihasilkan sebanyak 1,8 kg. Tepung telur ini dihasilkan menggunakan pengering sederhana (tipe rak) dan memiliki mutu proksimat, fisikokimia serta fungsional yang baik, kadar protein dan kadar lemaknya telah memenuhi standar FDA-US. Penggunaan bahan pengisi berupa maltodekstrin dan susu skim membuat tepung telur dapat diaplikasikan pada berbagai produk pangan.
Keunggulan:
Inventor:
Sri Usmiati, C.H. Winarti, Miskiyah, Maulida Hayuningtyas, Tatang Hidayat, Dondy A.S.B., Rahmawati Nurdjannah, Juniawati, Citra Haerani, Dwi Agriana, Marman Wahyudi, Triyono, Vincentius
Status HKI:
Proses pendaftaran