Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb, suku Zingiberaceae) merupakan tanaman yang tumbuh berumpun. Curcuma berasal dari kata Arab: kurkum yang berarti kuning. Xanrhorrhiza berasal dari kata Yunani: xanthos yang berarti kuning dan rhiza berarti umbi akar.
Dalam bahasa Indonesia disebut temulawak, yang berarti akar kuning (Oei Ban Liang et al., 1985 dalam Nurdjannah et al., 1994). Produksi temulawak Indonesia tahun 2013 mencapai 40.673 ton. Penampakan temulawak sepintas hampir serupa dengan temu putih atau Curcuma zedoaria (Berg) Rosc., tetapi berbeda dalam hal warna bunga dan rimpang.
Rimpang temulawak berukuran paling besar di antara semua rimpang genus Curcuma, oleh karena itu walaupun memiliki banyak nama daerah tetapi memiliki makna yang sama seperti koneng gede, temu raja, temu besar dan koneng tegel. Bentuk rimpang induknya membulat, warna rimpang kuning tua atau coklat kemerahan, dan bagian dalamnya berwarna jingga kecokelatan.
Dari rimpang induk ini keluar rimpang kedua yang lebih kecil, tumbuhnya ke arah samping dan berwarna lebih muda, dengan bentuk bermacam-macam. Rimpang ini baunya harum dan rasanya pahit agak pedas. Ujung akar membengkak membentuk umbi kecil. Bunganya mempunyai daun-daun pelindung yang besar dan beraneka ragam dalam warna dan ukurannya. Mahkota bunganya berwarna merah (Ramlan, 1985 dalam Nurdjannah, 1994).
Tanaman temulawak menghasilkan rimpang induk berbentuk bulat panjang dengan jumlah anak rimpang sebanyak 3-7 buah. Bila tanaman dibiarkan tumbuh lebih dari satu tahun, akan tumbuh anak rimpang sehingga menghasilkan rimpang cukup banyak.
Panen rimpang biasanya dilakukan pada umur 9-12 bulan, yaitu setelah bagian tanaman yang berada di atas permukaan tanah mulai kering dan mati. Setiap rimpang dapat menghasilkan sekitar 1,0-1,2 kg rimpang induk beserta rimpang cabang.
Hasil rimpang yang diperoleh tergantung dari kesuburan tanah dan ukuran bibit yang ditanam. Tanaman yang menggunakan bibit berupa rimpang induk menghasilkan kira-kira 10,6 ton rimpang basah/ha, sedangkan jika bibit berupa rimpang cabang akan menghasilkan 5-6 ton rimpang basah/ha.
Produksi rimpang dipengaruhi oleh tempat tumbuh. Pada dataran rendah produksi rimpang segar lebih besar daripada dataran tinggi (Sudiarto, 1974 dalam Nurdjannah, 1994). Untuk mendapatkan produksi rimpang tinggi dengan ukuran yang lebih besar sebaiknya temulawak ditanam di tempat yang terlindung.
Namun demikian tanaman temulawak masih dapat tumbuh dengan baik pada tempat yang terbuka.. Tanaman temulawak yang dimanfaatkan adalah rimpangnya, yang dalam dunia pengobatan tradisional digunakan untuk obat sakit lever dan untuk menambah nafsu makan. Selain itu dapat pula dibuat berbagai jenis minuman dan yang telah lama dikenal yaitu minuman temulawak.
Kegunaan Rimpang Temulawak
Penggunaan rimpang temulawak yang utama yaitu untuk obat. Menurut Sunaryo (1985) dalam Nurdjannah (1994), temulawak dapat merangsang produksi empedu dari sel hati dan mensekresikan ke dalam kandung empedu dan usus halus, serta merangsang sekresi pankreas.
Dengan adanya rangsangan produksi empedu, temulawak bermanfaat untuk penyakit saluran pencernaan, yaitu kelainan di hati, kandung empedu, pankreas, dan usus halus. Selain itu temulawak dapat membantu penurunan tekanan darah dan kontraksi uterus. Daya antiseptik ringan yang terkandung dalam temulawak dapat membentuk membersihkan kulit terhadap kuman dan radang jerawat.
Rimpang temulawak diduga mempunyai khasiat sebagai obat penguat (tonikum) sehingga sering diberikan kepada kaum ibu yang baru melahirkan atau mereka yang berbadan lemah. Selain itu, temulawak diduga juga dapat menambah nafsu makan dan dapat digunakan sebagai obat penambah darah bagi penderita penyakit kurang darah. Temulawak juga dapat digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan TBC, sariawan, kurap, perut kembung, sembelit dan gangguan gangguan lain pada saluran pencernaan dan kandung kemih.
Pohon Industri Rimpang Temulawak
Oleoresin Jamu Obat Simplisia Rimpang Minyak Atsiri Minyak Temulawak Berkar bonat non karbonat Minuman Sirup Zat warna Functional food Instan Temulawak Makanan (nanoenkapsulasi Temulawak)