Pewarna Alami Batik

Batik Eksklusif dan Eksotik Berkat Pewarna Alami

Zat warna alam untuk bahan tekstil pada umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Ekstraksi beberapa jenis bahan pewarna alami khususnya warna-warna primer seperti pewarna biru dari daun nila (Indigofera tinctoria), pewarna merah dari kayu secang (Caesalpinia sappan L) dan pewarna kuning dari jambal (Pelthoporum phterocarpum), tingi (Ceriop tagal) dan tegeran (Cudraina javanensis). Formulasi bahan pewarna menggunakan bahan pengikat (tawas, kapur dan tunjung) untuk menghasilkan bahan pewarna siap pakai dengan karakteristik pewarnaan yang baik dan stabil. Formula pewarna terbaik memiliki komposisi ekstrak 50%, gliserol 40% dan tween 80% sebesar 10%. Dengan karakteristik ketahanan luntur terhadap pencucian rata-rata cukup baik untuk gambir, secang, jambal dan indigo, cukup untuk tingi dan kurang untuk tingi. Selanjutnya ketahanan luntur terhadap keringat asam cukup baik dan baik untuk semua formula, sedangkan terhadap cahaya mempunyai nilai cukup sampai baik. Ketahanan luntur warna pada penodaan baik untuk semua zat warna. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas warna mendekati pewarna sintetik.

Keunggulan:

  • Memberikan warna eksotik dan pencitraan yang eksklusif pada kain batik
  • Limbahnya mudah terdegradasi di alam
  • Tidak mencemari lingkungan

 

Inventor:

Hernani, Risfaheri, Wisnu Broto, Djajeng Sumangat, Tatang Hidayat, Sri Yuliani, Heny Herawati, Fajar Kurniawan

Status HKI:

Proses pendaftaran