
Sebagian besar kebutuhan bawang putih nasional (sekitar 95%) masih dipenuhi dari impor, dan volumenya terus meningkat setiap tahun. Untuk mendukung program percepatan swasembada bawang putih, pemerintah mendorong penerapan teknologi pra-panen dan pascapanen yang tepat. Teknologi tersebut berperan penting dalam meningkatkan produktivitas, mutu, dan daya simpan bawang putih, baik untuk kebutuhan benih maupun konsumsi. Kualitas bawang putih selama penyimpanan sering menurun akibat kerusakan fisik, susut bobot, serta penurunan kadar air dan senyawa aktif. Faktor lingkungan seperti suhu dan kelembapan relatif sangat mempengaruhi stabilitas produk.
Penyimpanan bawang putih untuk konsumsi dengan kondisi penyimpanan terbaik, yaitu kadar air awal penyimpanan 60-63% dengan suhu kombinasi antara suhu ruang (25-30 C) selama 2 bulan dan dilanjutkan dengan suhu rendah (2-4 C). Pada penyimpanan bawang putih konsumsi selama 6 bulan, mutu bawang putih yang dihasilkan dari perlakuan tersebut lebih baik dibandingkan dengan penyimpanan pada suhu ruang (25-30 C) dan suhu rendah secara terus menerus (2-4 C). Penurunan kadar allisin dari perlakuan terbaik selama penyimpanan 6 bulan sebesar 61,323%, lebih rendah dari perlakuan lainnya.
Keunggulan:
Inventor:
Tatang Hidayat, Setyadjit, Wisnu Broto, Dondy A. Setiabudi, Siti M. Widayanti, Sunarmani, Kirana Sanggrami Sasmitaloka, Elmi Kamsiati, Sandro Pangidoan, Sari Intan Kailaku
Status HKI:
Proses pendaftaran