
Seiring dengan perkembangan bisnis kuliner di Indonesia, penggunaan keju baik sebagai campuran makanan maupun toping makanan semakin meningkat. Tentunya, hal ini akan berdampak terhadap peningkatan produksi keju. Dengan kata lain, produksi whey pun semakin meningkat. Whey adalah hasil samping dari industri pembuatan keju, yang dihasilkan sebesar 90 % pada setiap proses produksi keju sehingga ketersediaanya cukup melimpah. Whey berupa cairan yang berwarna kuning kehijauan, mengandung laktosa 45-50 g/L, protein 7-9 g/L dengan asam amino yang lengkap baik asam amino esensial maupun non esensial.
Nata de whey merupakan olahan pangan kaya serat yang dihasilkan melalui proses proses fermentasi dengan penambahan bakteri Acetobacter zylinum, sumber karbon (glukosa/sukrosa), sumber nitrogen (ZA food grade) dan asam asetat. Lain halnya dengan nata de coco yang menggunakan bahan baku air kelapa sebagai media pertumbuhan bakterinya, nata de whey menggunakan bahan baku whey susu sapi. Proses fermentasi nata de whey berlangsung selama 7 hari dan dari 1 liter whey menghasilkan 500 g nata de whey. Kandungan gizi yang terdapat dalam nata de whey lebih lengkap dibandingkan nata de coco dengan adanya kandungan protein sebesar 1 % (berat basah). Dengan adanya teknologi pengolahan nata de whey diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah dari whey selain untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah whey itu sendiri.
Keunggulan:
Inventor:
Sri Usmiati, Agus Budiyanto, Juniawati, Citra Haerani
Status HKI:
Proses pendaftaran